Pada kesempatan ini akan kita jelaskan apa saja perbedaan dari Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC dengan Orator, kita bicaran dari berbagai sisi, baik dari arti kata, cara pembawaannya, sikap tubuh dari Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC maupun Orator, untuk lebih jelasnya mari kita bersama membaca artikel dibawah ini.
Seringkali kita bingung apakah antara orator dengan Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC itu memiliki perbedaan ? Kalau diperhatikan secara fisik, seorang Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC memiliki gestur tubuh yang lebih santai saat membawakan sebuah acara sedangkan Orator sikapnya lebih tegas, formal, dan kaku. Mereka yang menjadi Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC atau sering juga disebut Host membawakan acara dengan ekspresi yang lebih luas.
Membawa penonton atau hadirin untuk ikut menikmati acara sesuai dengan tema yang sedang dibawakan. Misalnya tema acara ulang tahun, maka Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC akan membuat hadirin ikut senang, bahagia dan ikut berpartisipasi dalam atmosfir keramaian dan keceriaan yang sedang berlangsung.
Mereka Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC yang membawakan sebuah pidato akan bersikap lebih formal dan tegas baik dilihat dari gesture maupun ekspresinya. Misalkan pidato yang akan dibawakan dalam sebuah acara wisuda. Mereka Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC yang berpidato di atas mimbar tidak menunjukan ekspresi yang berlebihan karena sifatnya yang formal.
Seringkali mendengarkan pidato itu jadi membosankan. Apa sebabnya? Materi yang dibawakan dan cara penyampaian serta nilai yang terkandung dalam pidato itu kurang bisa membawa hadirin untuk menyelami dan memahami makna yang terkandung dalam uraian pidato yang bibawakan oleh seorang Master of Ceremony – MC.
“He in fact is eloquent who can discuss commonplace matters simply, lofty subjects impressively, and topics raging between in a tempered style”. ( Cicero, Orator, 46 BC, translated by H.M. Hubbell). Arti dari kalimat itu adalah Seorang orator sangat fasih mendiskusikan apa yang sedang dipaparkan, sesederhanapun subjeknya, dia bisa membawakannya dengan penuh kesan, wibawa dan penuh percaya diri, tentu ini mengenai orator bukan Master of Ceremony – MC.
Bagaimana kita bisa menjadi orator yang baik? Apakah setiap orang bisa melakukannya tanpa gugup tanpa panik? Karena jika ditilik lebih dalam tugas orator itu tidak mudah, dibandingkan dengan Master of Ceremony – MC. Mereka harus bisa membawakan tema yang diusungnya dengan penuh semangat sehingga hadirin menjadi tertarik dan tidak meninggalkan tempat pidato sebelum orator selesai bicara.
Hal ini terjadi pada proklamator kebanggaan kita, Soekarno, di mana saat dia bicara di depan masyarakat, tak ada satupun yang bergerak untuk pergi menjauh dari tempat berpidato sebelum pidato itu rampung. Sementara banyak orang hanya merasa nyaman di antara satu grup kecil maka orator selalu merasa nyaman di antara kerumunan. Tapi tenang saja, setiap orang bisa menjadi orator hebat asalkan mau berlatih.
Orator yang baik tahu dengan jelas apa yang mereka ucapkan. Mereka melakukannya dengan hati senang. Saat seorang orator memiliki ketenangan, tujuannya dan atmosfir keberadaan yang tinggi maka tidak ada kerumunan atau massa yang tak dapat diraihnya.
Ketenangan adalah saat kita bisa membawa diri sendiri sesuai dengan jalur yang diharuskan, tujuan alah alas an yang membuat kita dapat berdiri di tengah-tengah sana dan atmosfir keberadaan adalah Aura dari dalam diri yang muncul seiring dengan ucapan yang kita lontarkan ke hadapan orang banyak. Atmosfir juga bisa diartikan dengan antusiasme yang menggebu-gebu.
Hal penting lainnya yang harus diperhatikan pada saat kita harus membawakan sebuah pidato adalah komunikasi dengan hadirin. Kontak mata, cara penyampaian dan suara kita harus terdengar tegas dan lugas. Orator yang hebat dapat membuat pendengarannya menangis dan tersenyum sekaligus dalam satu tema pidato karena energy yang dikeluarkan oleh orator itu terasa sangat alami sehingga membuat hadirin merasa diri mereka adalah bagian dari si pembawa pidato tersebut.
Kita harus bisa menekankan bahwa pidato yang disampaikan adalah penting. Hal itu bisa dilakukan dengan kontak mata, pelafalan yang jelas, nada suara dan penekanan kata. Karena pidato merupakan percakapan yang dilakukan oleh seseorang dengan kerumunan maka orator bisa menjadi mendorong semangat atau juga merendahkan.
Setiap kalimat yang diucapkan harus keluar dari dalam jiwa kita sehingga bisa menghasilkan frase yang akan selalu diingat oleh massa. Buatlah sebuah kalimat yang asli keluar dari pemikiran kita lalu kita gunakan di saat pidato untuk lebih mencerahkan tema yang sedang dibawakan.
Ingatlah bahwa setiap pidato harus meninggalkan kesan bagi para hadirin. Orator yang baik biasanya menggunakan kalimat terakhir untuk mendorong semangat hadirin. Jangan biarkan hadirin merasa bahwa kalimat terakhir kita sangat menggantung. Entah kemana maksudnya, mereka tidak tahu. Hindari hal seperti itu dan lebih baik tunjukkan bahwa di pidato selanjutnya bakal ada aksi yang lebih menarik dan sepenuh semangat.
Ketakutan paling umum yang banyak dihadapi oleh orang adalah glossphobia atau ketakutan berbicara di depan publik. Di Amerika Serikat, Negara yang dianggap banyak orang penuh dengan orang-orang modern dan berteknologi tinggi, memiliki sekitar 5% penduduknya yang merasa takut jika harus berbicara di depan umum.
Kita tidak perlu takut asalkan sebelumnya kita sudah melakukan observasi dan mengenal siapa yang menjadi hadirin nanti. Setiap pidato dibawakan untuk hadirin yang spesifik. Definisi hadirin adalah berkumpul untuk menonton sesuatu yang patut dan pantas diperhatikan untuk sekian waktu tertentu. Tapi sekumpulan orang biasanya lebih mudah dikontrol dibandingkan individu yang terpisah.
Hanya dua hal yang mesti diingat untuk mendapatkan perhatian hadirin yaitu, cari tahu apa yang mereka ingin dengar dan cari cara bagaimana menyampaikan pesan itu dengan baik. Setiap hadirin itu berbeda, hal ini yang harus selalu diingat dalam pikiran orang yang akan berpidato. Untuk itu sebelum menuliskan tema pidato, sebaiknya kita melakukan riset terlebih dahulu tentang calon pendengar kita.
Apa yang ingin mereka dengar. Apa yang disukainya. Apakah mereka bakal familiar dengan subjek yang akan kita bawakan. Apakah mereka akan menikmati tema itu atau malah bosan. Pelajari apa yang mereka harapkan dapat dari kita. Memikirkan hal-hal tadi akan membuat pidato kita tetap pada jalurnya.
Setiap kata yang digunakan dalam setiap kalimat juga bahasa tubuh menjadi faktor penting suksesnya pidato yang dibawakan. Pidato tentang software computer tidak akan cocok dibawakan di sebuah Sekolah Dasar dengan hadirin yang terdiri dari anak-anak. Yang bisa ditekankan adalah “Apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak dengan sebuah computer”.
Tapi kalau tema itu diberikan pada sekelompok kolega sebuah perusahaan besar tentunya cocok bila temanya adalah “ Perkembangan Software Masa Kini”. Jadi hadirin tidak mengerti ucapan kita, maka pidato itu akan lewat begitu saja tanpa dimaknai sedikitpun. Jika kalimat yang digunakan terlalu sederhana, maka pidato kita akan diramaikan oleh dengkutan hadirin yang merasa boooosaaaan.
Ingatlah dengan citra yang ingin disampaikan dan tepat pada sasaran. Saat sedang bicara dihadapan anak-anak, senyumlah dan buat wajah kita ramah, hangat, dan terbuka bagi mereka. Jika menyampaikan pidato untuk sekelompok hadirin dengan pendidikan tinggi, maka pembawaan kita juga tentu harus berbeda. Intinya saat membawakan sebuah tema, adalah bukan hanya menyampaikan nilai yang tersirat dalam pidato dengan baik pada hadirin, tapi juga mengkomunikasikan sesuatu pada hadirin,
Untuk itu kita harus menganggap bahwa hadirin adalah satu kesatuan, hanya satu orang saja. Karena saat kita menganggap hanya satu orang yang harus dikhawatirkan maka kita akan merasa lebih terhubung dengannya. Pidato kita akan mengalir lancar karena kita tahu bahwa hadirin sedang mendengarkan dan mengerti apa yang kita bicarakan.
Saat kita di atas mimbar jangan memposisikan diri sebagai pembicara satu arah saja. Tatap hadirin yang ada di depan kita sehingga mereka merasakan sebuah hubungan, sebuah komunikasi. Komunikasi ini yang akan menjadi jalan untuk meraih tujuan disampaikannya pidato kita. Jadi kita boleh melihat catatan yang sudah disiapkan sesekali tapi lakukan hal itu sewajar mungkin, jangan kaku.
Pertimbangan untuk melibatkan hadirin dalam pesan yang sedang disampaikan. Tidak semua pidato bisa me;ibatkan hadirin, tergantung tema yang disampaikan saja. Dengan melibatkan hadirin akan membuat mereka bersemangat untuk memperhatikan juga membuat kita lebih mudah mengerti keinginan hadirin. Tapi ingatlah, usahakan tidak menunjuk seseorang yang tidak siap dengan jawaban karena hal seperti itu akan membuat malu orang lain. Hindari hal seperti itu.
A Master of Ceremonies (MC) is the host of a staged event or similar performance. An MC usually presents performers, speak to the audience, and generally keeps the ivent moving.(Wikipedia)
Seorang Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC adalah orang yang diberi tugas membawakan sebuah acara atau kigiatan yang biasanya memperlihatkan kemampuannya membawa hadirin untuk menghidupkan sesuatu.
Acara akan menjadi ramai dan hidup seakan tak ada batasnya. Semua ikut senang, tertawa, bahagia, dan menikmati acara yang dilaksanakan.
Master of Ceremony juga dikenal orang sebagai MC atau Compere (bahasa Inggris). Fungsi dari Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC adalah untuk banyak berinteraksi dengan banyak orang atau hadirin dan membuat perhatian hadirin terpokus pada pembicara. Seorang Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC harus memiliki pengendalian penuh, terhadap aliran acara dari serentetan rundown(uraian acara) dan memastikan semua berjalan lancar.
Kalau kita berhasil menua melakukan itu untuk pertama kalinya maka kita akan menyadari bahwa tugas seorang Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC itu banyak dan memerlukan tanggung jawab yang besar. Pembawa Acara – Master of Ceremony - MC menyatukan semua uraian acara dalam satu kesatuan. Jadi itulah artikel yang dapat kita baca bersama, terima kasih untuk Pembawa Acara – Master of Ceremony – MC.